Bahan Bakar Alternatif di Era 5.0
BAHAN BAKAR ALTERNATIF DI ERA 5.0
Disusun oleh:
NIHNA NAFILA NAJA
09010123005
BIOMOLEKUL
ALISA AFKARANI
PROGRAM STUDI BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
TAHUN AJARAN 2023-2024
Pendahuluan
Dalam dekade terakhir, energi menjadi perhatian penting di semua negara. Gaya hidup manusia di zaman modern memiliki hubungan yang sangat erat dengan kuantitas energi dan kualitas. Saat ini, 80% energi konvensional digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri masyarakat. Konsumsi energi global akan meningkat 1,5% per tahun hingga 2030. Menipisnya minyak dan gas cadangan dan pertumbuhan cepat dalam energi konvensional komsumsi terus menerus memaksa kita untuk menemukan sumber energi terbarukan, seperti matahari, angin, biomassa, biodiesel, biofuel dan PLTA untuk mendukung pembangunan pembangunan ekonomi di masa depan.
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 17.000 pulau meliputi wilayah sekitar 9.822.570 km2 membentang di sepanjang garis khatulistiwa dan 3.000.000 km2 laut. Indonesia memiliki iklim tropis dan umumnya musim kemarau terjadi dari bulan Juni hingga September, sedangkan musim hujan terjadi dari Desember hingga Maret. Setelah 1998 ketika resesi ekonomi terjadi, konsumsi energi Indonesia meningkat setiap tahunnya. Tingkat pertumbuhan 7% dan tidak seimbang dengan fosil yang memadai cadangan bahan bakar. Sedangkan cadangan bahan bakar fosil terbatas dan ketergantungan yang masih tinggi. Transportasi dan industri adalah pengguna energi tertinggi di Indonesia (Handayani dan Ariyanti, 2012).
Bahan Bakar Nabati (BBN) atau biofuel adalah bahan bakar transportasi berbasis bahan baku pertanian yang sering digunakan sebagai bahan baku. Produk komersial populer BBN adalah biodiesel dan bioetanol. Biodiesel adalah bahan bakar alternatif yang menjanjikan dan ramah lingkungan, tidak berdampak pada kesehatan yang dijadikan bahan bakar kendaraan bermotor dapat mengurangi emisi dibandingkan solar. Biodiesel dapat digunakan murni atau campuran dan khususnya untuk mesin diesel (Devita, 2015).
Pembahasan
Saat ini, masyarakat dimana pun membutuhkan bahan bakar dan pengguna bahan bakar yang semakin meningkat, sementara cadangan material bahan bakar fosil semakin menipis. Yang menjadikan hampir semua negara mulai melakukan pengujian dan pencarian bahan bakar alternatif terbarukan atau pengganti bahan bakar fosil. Dalam upaya penelitian, pengembangan dan eksplorasi sumber energi alternatif harus dilakukan. Mempertimbangkan faktor-faktor kunci yaitu energi, ekonomi, dan ekologis. Dengan kata lain, sistem yang dikembangkan dengan benar dapat menghasilkan energi dalam jumlah besar dengan biaya rendah dan dampak lingkungan yang rendah.
Solusi alternatif mungkin memenuhi kriteria ini melibatkan penggunaan minyak nabati sebagai bahan mentah bahan bakat hayati (biofuel). Secara umum minyak nabati bisa terurai lebih sempurna (lebih dari 90% dalam 21 hari) dibandingkan bahan bakar minyak bumi (sekitar 20% dalam 21 hari). Disisi lain, rencana penggunaan minyak nabati sebagai bahan bakar dapat membawa nilai ekonomi bagi industri pertanian. Contoh minyak nabati yang berpotensi digunakan yakni minyak sawit sebagai bahan bakar alternatif.
Penggunaan kelapa sawit sebagai sumber energi alternatif tersebut sangat cocok diterapkan di Indonesia karena Indonesia adalah negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar setelah negara tetangga Malaysia. Bahan bakar dari minyak kelapa sawit lebih ramah lingkungan karena tidak mengandung nitrogen dan sulfur. Minyak kelapa sawit mempunyai rantai hidrokarbon yang panjang dan memungkinkan digunakan sebagai bahan bakar dari tanaman (biofuel) (Nugorho dkk., 2014).
Biodiesel, biasanya diproduksi oleh suatu proses kimia yang disebut reaksi transesterifikasi atau esterifikasi yang merupakan reaksi senyawa ester dan alkohol menggunakan sebuah katalis. Biodiesel dihasilkan dari minyak bumi sayuran dari sumber daya alam yang dapat diperpanjang. Sumber bahan baku potensial. Bahan baku produksi biodiesel antara lain: minyak sawit, kedelai, bunga matahari, minyak wijen, tebu, alpukat dan beberapa tanaman yang lain. Selain minyak sayur, bahan bakunya juga bisa digunakan dari lemak hewani, lemak yang dibakar, atau lemak daur ulang. Semua bahan mentah ini mengandung trigliserida, asam lemak bebas (ALB) dan pencemar.
Secara kimiawi, biodiesel termasuk ke dalam gugus mono alkil ester atau metil ester dengan panjang rantai karbon dari 12 sampai 20. Yang membedakan dengan solar dari bahan utamanya yakni hidrokarbon. Minyak nabati adalah bahan baku yang mempunyai potensi besar sebagai sumber biodiesel karena ketersediaannya dapat diperbarui. Jenis dalam minyak sayur yang digunakan harus mengandung asam lemak bebas (ALB) serendah (<1%), jika lebih dari itu perlu penanganan terlebih dahulu karena hal ini akan menyebabkan efisiensi operasi yang rendah (Devita, 2015).
Bahan baku pendukungnya adalah alkohol. Alkohol yang digunakan sebagai reagen untuk minyak nabati adalah metanol, namun dapat juga berupa etanol, isopropanol atau butil. Hati-hati dengan kadar air alkohol, kadar air yang tinggi akan menghasilkan biodiesel yang berkualitas buruk karena kandungan sabun, ALB dan trigliserida yang tinggi (Devita, 2015). Secara umum, terdapat tiga metode untuk mendapatkan biofuel yakni dengan membakat residu organik seperti limbah rumah tangga atau industri, sampah pertanian, kayu dan gambut; fermentasi anaerobik seperti produksi biogas dari limbah peternakan dan fermentasi aerobik (ada dua jenis utama), diantaranya produksi alkohol (bioetanol) dan ester (biodiesel) (Supraniningsih, 2012).
Biodiesel, adalah energi hayati atau biofuel yang terbuat dari minyak nabati, baru ataupun minyak bekas penggorengan yang diubah proses tramsesterifisaki. Biodiesel banyak ditemukan di pasaran adalah B 10, dimana 10% biodiesel dicampur dengan solar D44. Biodiesel dapat dihasilkan dari minyak nabati, lemak hewan dan alga. Beberapa tanaman yang menghasilkan minyak nabati adalah minyak canola, minyak kedelai, minyak sawit, kelapa dan sebagainya. Di antara sekian banyak spesies tumbuhan produsen biodiesel, kelapa sawit, pabrik kelapa, kacang Brasil dan tanaman biji jarak. Tanaman jarak, kelapa dan kelapa sawit memiliki potensi pengembangan yang besar dan digunakan sebagai bahan baku biodiesel karena memiliki kandungan minyak yang tinggi dan mudah didapat dalam jumlah yang cukup melimpah.
Bioetanol ialah etanol yang terbuat dari biomassa mengandung selulosa atau pati. Tanaman yang dapat digunakan untuk menghasilkan bioetanol termasuk molase, singkong, sorgum dan sebagainya. Bioetanol yang banyak ditemui di pasaran adalah gasohol E 10 merupakan campuran etanol (10%) dan bensin (90%). Salah satu negara yang sukses menggantikan bensin dengan etanol adalah Brasil (Supraniningsih, 2012). Bioetanol sangat berguna karena dicampur dengan bensin dalam komposisi berapa pun jumlahnya berdampak positif. Keunggulan bioetanol daripada bensin antara lain: bioetanol dapat digunakan dengan aman sebagai bahan baki pembakaran sebab titik nyala bahan etanol tiga kali lebih tinggi dibanding dengan bensin dan lebih sedikit emisi hidrokarbon. Namun di setiap keunggulan pasti ada kerugian, kerugian bioetanol daripada bensin yakni pada mesin dingin hal ini lebih sulit dilakukan dimulai saat menggunakan bioetanol dan bioetanol bereaksi dengan logam seperti magnesium dan aluminium (Setiawati dkk., 2013).
Kesimpulan
Semakin berkembangnya zaman, masyarakat membutuhkan yang namanya bahan bakar. Namun disisi lain cadangan material bahan bakar fosil semakin menipis. Alasan inilah yang menyebabkan semua negara melakukan pengujian dan penelitian untuk mencari bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil. Solusi alternatif yang memenuhi kriteria yakni penggunaan minyak nabati sebagai bahan mentah bahan bakar hayati (biofuel). Minyak nabati yang cocok digunakan dalam biofuel yakni minyak sawit, didukung dengan ketersediaan kelapa sawit di Indonesia yang melimpah. Hal ini, cukup membantu mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Dengan bantuan bioteknologi produk yang dihasilkan dari bahan bakar nabati yakni biodiesel dan bioetanol.
DAFTAR PUSTAKA
Handayani. N. A., Ariyanti. D., 2012. Potency of Solar Energy Applications in Indonesia. Journal of Renewable Development, 1 (2): 33-38.
Nugroho. A. P. P., Fitriyanto. D., Roesyadi. A., 2014. Pembuatan Biofuel dari Minyak Kelapa Sawit melalui Proses Hydrocracking dengan Katalis Ni-Mg/γ-AI2O3. Jurnal Teknik Pomits, 3 (2): 117-121.
Devita. L., 2015. Biodiesel sebagai Bioenergi Alternatif dan Prospektif. Agrica Ekstensia, 9(2): 23-26.
Suprianingsih. J., 2012. Pengembangan Kelapa Sawit sebagai Biofuel dan Produksi Minyak Sawit serta Hambatannya. Widya, (29) 231.
Setiawati. D. R., Sinaga. A. R., Dewi. T. K., 2013. Proses Pembuatan Bioetanol dari Kulit Pisang Kepok. Jurnal Teknik Kimia, (1) 1o: 9-15.

Komentar
Posting Komentar